Minggu, 23 September 2012

Kapas di Dalam Toples

Hati ini seperti kapas
Yang terbungkus dalam bantal
Lalu dirobek dan diluluhlantakkan
Seperti debu yang bertaburan

Aku rindu pada pohon randu
Yang ditebang dua tahun lalu
Kini hanya ada kapas yang tersisa
Bergeletakan di atas lantai


Haruskah ku punguti satu per satu?
Lalu ku masukkan ke dalam toples kaca
Agar aku bisa terus mengenangmu
Wahai hati yang rindu akan pohon randu

Aku kangen waktu aku berteduh di bawahmu saat panas
Kamu membikin aku ngantuk
Sampai aku tertidur lelap
Dan waktu aku bangun
Kamu sambut aku dengan butiran-butiran kapas bertaburan
Membuat aku bersin-bersin
Tapi aku senang karena kamu ada di situ, di sampingku

Sekarang yang ada hanya rumah-rumah mewah
Kamu sudah tinggal jadi sejarah
Hanya kapas-kapas tua yang kamu tinggalkan
Sebenarnya dulu ada buah nangka
Namun sudah aku makan
Karena kalau ku simpan pasti akan jadi busuk

Kupandangi kapas-kapas dalam toples kaca
Tiba-tiba aku mendengar mereka berbicara
Kami ingin bebas, katanya
Di sini pengap, lanjutnya
Terbangkan kami ke udara bebas
Kamu akan tetap memiliki kami
Karena kami letaknya di hati kamu
Bukan di toples kaca ini

Lalu aku sadar...
Terkadang kita harus merelakan sesuatu yang kita cintai lepas dari genggaman kita
Karena mungkin itu lebih baik...
Daripada kita memilikinya

Untuk terakhir kali
Kuperhatikan butiran-butiran kapas Beterbangan di udara
Ku perhatikan terus
Sampai benar-benar lenyap dari ujung mata
Selamat tinggal masa lalu...

Tidak ada komentar: